About Me

My photo
An Health, Safety, and Environment (HSE) Specialist from Environmental Engineering Dept. of Institut Teknologi Bandung (ITB), Indonesia. Have work experiences for almost 8 years as HSE in varoius company, UPC Renewables Indonesia (Wind Farm), Leighton Contractors Indonesia (Contractors of building, cilvil, and mining), Dynapack Asia (manufacture, food industry). Happy to share the updates or information related to HSE issue, and awareness

Wednesday, August 25, 2010

Ini Jawabannya

Senang sekali akhirnya bisa bertemu dengan geng TPB saya. Mereka adalah Casa, Rima, Hanum, dan Tedi. Sayangnya, Ossy dan Barnes tidak bisa ikut karena masih Kerja Praktek di Kep. Mentawai. Sedangkan, Pandu masih ada urusan lain. Yah, meskipun tidak semuanya kumpul, tapi cukup bisa melepas kangen satu sama lain.

Kami cerita satu sama lain, cerita masa-masa Kerja Praktek kita yang berbeda-beda tempat. Bahkan kita berencana akan kumpul lagi minggu depan untuk buka puasa dan sahur bareng di Rumah Hanum. Semoga terlaksana ya. Amin.

Namun, ada pertanyaan yang menggelitik saya saat itu.

"Lo kenapa putus Din ??"
"Heu, kenapa ya"

Yah, memang tidak menjawab pertanyaan. Untungnya, pertanyaan itu hanya angin lalu. Jadi tidak dibahas lagi. Mungkin mereka tahu hal itu sensitif untuk dibicarakan atau mereka tahu saya memang bukan orang yang  mudah menceritakan masalah seperti itu.

Kalau ditanya kenapa putus, sejujurnya saya juga bingung. Kami putus bukan karena pihak ke-tiga, ada yang selingkuh atau orang tua tidak setuju. Kami putus baik-baik. Saya bisa katakan seperti itu karena beberapa kali, saya jadi kembali HTS (Hubungan Tanpa Status) dengan dia. Bahkan setelah putus pun, dia pernah mengutarakan perasaanya. Bukan bermaksud balikan, tapi hanya menyatakan bahwa dia masih sayang dan kangen.

Saya yang memutuskan hubungan ini. Awalnya mungkin hanya salah paham. Namun, entah kenapa, saat itu, belum bisa terima keadaan. Sikap dia yang meninggalkan saya di suatu rumah makan menurut saya tidak etis. Meskipun itu hanya bercanda, atau sekedar nantangin tapi saya benar-benar kecewa saat itu.

Untungnya, kejadian itu terjadi, kalau tidak saya tidak tahu perasaan dia bagaimana sebenarnya. Saat di telpon-untuk putus dengannya-dia cerita keluh kesah selama berpacaran dengan saya. Dia juga mengutarakan sifat saya yang masih childish, dsbMungkin ini yang namanya kurang komunikasi, salah satu dari kita tidak jujur pada pasangannya sendiri. Sehingga masalah itu menumpuk, dan tidak dapat ditampung lagi. Ibarat gelas yang diisi dengan air tanpa diminum akhirnya akan meluap. Dari sini saya belajar pentingnya berkomunikasi.

Saya tidak menyalahkan dia. Saya pun di sini juga salah. Namun dari sini saya bisa mengambil hikmahnya bahwa komunikasi dalam suatu hubungan itu penting. Dan seiring waktu, saya yakin dapat seutuhnya melupakan dia dan kenangannya.


Satu lagi, mungkin kalo ada yang bertanya lagi kenapa kita putus, jawabannya dapat di lihat dari cerita diatas. Kompleks ya memang, karena memang tidak ada alasan yang jelas.

No comments:

Post a Comment